Thursday, August 14, 2008

konsep seni budaya disekolah







Sudut pandang pengembangan seni budaya disekolah

Sikap profesionalisme pendidikan bukanlah hanya sekedar dinilai dari kualitas pencapaian hasil yang distandarisasi dengan hasil akademik, namun lebih dari itu, profesionalisme dapat diukur dari usaha menempatkan diri sebuah intitusi pendidikan dengan penuh kesadaran dalam mengelola sebuah proses pendidikan berdaya guna.
Salah satu yang dapat ditempuh adalah dengan memformulasikan kuantitas dan kualitas keilmuan yang diberikan sesuai dengan latar belakang input yang diperoleh sebuah institusi yang kemudian mengelola proses dengan tujuan menghasilkan output yang optimal.
Sebuah sekolah yang memiliki prestasi akademik menonjol biasanya memang telah memperoleh input siswa yang telah memiliki intelegensi diatas rata-rata, maka tidak heran apabila dalam prosesnya pengelolaan siswa dengan jenis semacam ini lebih mudah dan lebih dapat memperoleh hasil yang optimal. Namun sebaliknya bagi sebuah instiusi pendidikan dengan berlatar belakang input siswa yang berintelegensi kurang harus memiliki sebuah langkah strategis dalam mengelola proses sehingga menghasilkan output yang berkualitas dan berkompetensi.
Intelegensi Quetional (IQ) akan menjadi perhatian utama bagi sebuah sekolah dalam sebuah proses pendidikan, namun akan menjadi masalah tersendiri ketika yang dikelola dalam sekolah tersebut adalah siswa dengan bekal intelegensi yang kurang, bukan tidak mungkin untuk pendongkrakan intelegensi dilakukan oleh sekolah, namun akan sangat mungkin juga apabila intelegensi tidak dapat berkembang secara optimal apabila dibanding dengan siswa dengan intelegensi yang lebih.
Sebuah formulasi kemudian harus dipilih sekolah untuk menuju output siswa yang berkualitas, yaitu dengan menyeimbangkan antara intelegensi, emosional ditambah dengan spiritual question.

Sseni Budaya di Sekolah
Merupakan suatu keharusan ketika muatan pendidikan dalam sekolah membuat standarisasi pencapaian hasil melalui program-program produkktif dan adaptif, maka muatan lokal yang secara independent menjadi kebijaksanaan tersendiri bagi suatu sekolah dalam mengelolanya akan menciptakan karakter tersendiri bagi sebuah sekolah. Karakter yang dimaksud adalah cirri khusus yang merupakan kekuatan dan kelebihan sebuah sekolah disbanding dengan sekolah lain
Ketika mata diklat Seni Budaya kembali dipopulerkan dalam proses pendidikan di sekolah, maka kemudian memunculkan tanggapan yang beragam pada masing-masing sekolah, tanggapan tersebut bukan masalah setuju atau tidak setuju dalam memasukkan pelajaran seni budaya kedalam pelajaran disekolah, namun lebih kepada bagaimana kemudian menciptakan goal (hasil) sesuai standarisai keberhasilan pendidikan, lalu bagaimana langkah dalam pembelajaran seni budaya tersebut disekolah?.
Seni budaya kemudian dibagi menjadi 5 disiplin seni yang kemudian ditawarkan pada sekolah dalam upaya efisiensi dan efektifitas proses pendidikan pelajaran ini, yaitu seni musik, seni sastra, seni rupa, seni tari dan seni teater. Cabang-cabang seni ini kemudian manjadi pilihan bagi sebuah sekolah untuk kemudian menjadikannya sebuah pelajaran intra disekolah.
Beberapa pertimbangan bagi sekolah dalam menentukan pilihan bidang seni yang dijalankan yang paling utama adalah berdasarkan ketersediaannya sumberdaya manusia dalam hal ini adalah guru yang berkompeten mengampu mata diklat seni budaya tersebut. Persoalan inilah yang kemudian menjadi keprihatinan dan menjadi bahan evaluasi, ketika barangkali melimpahnya tenaga pendidik yang berlatar belakang akademik bahasa Indonesia, matematika, ekonomi, bahasa inggris, biologi fisika dll, namun ketersediaan guru dengan latar belakang akademik kesenian sangat terbatas, apabila ada secara kuantitas jenis disiplin kesenian juga terbatas.
Pertanyaan yang mendasar barangkali, sedemikan lemahkah perhatian pendidikan pada aktifitas seni budaya pada masa lalu?
Kemudian sebenarnya apa yang diharapkan dari kehadiran senibudaya di sekolah? Kalau mengacu dari kurikulum serta modul yang diberlakuakan pada sekolah, misalkan saja pada tingkat SMA /SMK, muatan bahan ajar yang tuangkan masih begitu umum dan sangat dangkal untuk menghasilkan siswa yang kemudian memilki kompetensi dalam berapresisi seni. Maka sebenarnya menjadi hak masing-masing guru atau sekolah untuk memformulasikan materi yang diajarkan terhadap siswanya, dengan pertimbangan utama adalah potensi yang dimiliki siswanya masing-masing.
Dengan kesadaran demikian maka akan sulit memang maenjalankan proses ini, karena masing-masing siswa memilki potensi yang berbeda-beda, maka yang kemudian terpikir oleh guru adalah, kenudian diselenggarakan saja seluruh disiplin seni disekolah, pertanyaan kedua kemudian muncul, lalu membutuhkan banyak guru dong dalam proses tersebut? Yang lebih memprihatinkan lagi berangkali muncul dari sebuah sekolah swasta, kami tidak kuat kalau harus menggaji guru terlalu banyak ……., lalu bagaimana dengan keterbatasan ini?
Pertanyaan-pertanyaan demikian memang kemudian muncul, namun kalo saya berpendapat banyak alternatif pilihan yang dapat dijalankan sekolah, kesadaran guru sebagai sang motivator menjadi jawaban semuanya, diawali dengan kesadaran penuh seorang guru bahwa siswa yang dihadapinya memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik dari segi ekonomi, sosial, kultural, karakter dan yang utama adalah bekal potensi yang dimiliki. Tidak salah memang kemudian membentuk siswa menjadi sesuai dengan yang kita harapkan, namun tidak sepenuhnya juga salah ketika siswa tidak dapat melakukan sesuai yang kita harapkan karena kemampuan dan potensi yang dimilikinya kurang, namun barangkali di bidang lain siswa menjadi sangat meonjol. Kesadaran yang kedua bagi seorang guru adalah selalu ingin terus belajar termasuk juga belajar terhadap kondisi semacam ini.
Tidak selamanya sebagai seorang guru hanya mengajari siswanya saja, namun yang juga sangat penting sebenarnya adalah memberikan referensi pengetahuan dan memotivasi siswanya, apalagi kalau kita dihadapkan pada kondisi yang demikian. Kesadaran terhadap keterbatasan kompetensi seorang guru bukan menjadikan alasan untuk kemudian tidak melakukan tindakan yang optimal dalam sebuah proses pembelajaran. Tindakan tidak optimal yang dimaksud adalah dengan egois memaksakan pola pendidikan pada siswa hanya pada satu bidang didiplin seni tertentu yang kemudian hanya beberapa atau sebagian dari siswa saja yang dapat mengikuti dan mengembangkan potensisnya, sedangkan sebagaian siswa yang lain hanya kerena keterpaksaan dan setengah hati saja mengikuti materi.
Kalau dapat kita simpulkan adalah dalam proses pendidikan disekolah perlu ditanamkan baik secara general kepada sekolah ataupun spesifik kepada guru tentang kesadaran pencapaian goal, bukan sekedar melalui satu sudut pandang intelegensi saja, namun lebih dari itu, kompetensi perlu di gali dan dicetak bias melalui sudut pandang yang berbeda, yaitu emosional question dan spiritual question, seni budaya yang menjadi topic bahasan kali ini adalah salah satu alternative dalam pengelolaan emosional question siswa.

Tri Setyo Nugroho, SE
KESISWAAN, SMK YP 17 Magelang

No comments: